Kepemilikan lahan yang kian menyempit ditambah lagi dengan sumber daya insan yang mulai terbatas, biaya perjuangan tani yang semakin mahal, serta banyak sekali faktor yang lainnya menciptakan petani semakin jauh dari kata sejahtera merupakan polemik yang tak kunjung terselesaikan hingga sekarang.
Oleh alasannya yaitu itu, sering muncul gagasan untuk mendorong para petani ‘keluar’ dari acara ‘on farm’ menuju acara ‘off farm’. Artinya, para petani didorong untuk lebih berdaya dengan memberi nilai tambah acara perjuangan taninya, baik itu melalui pengolahan produk pertanian ataupun melalui banyak sekali pengembangan perjuangan berbasis pertanian.
Langkah tersebut diperlukan akan menciptakan petani bisa menjadi pelaku perjuangan yang lebih besar lengan berkuasa saat berhadapan dengan pasar. Rencana ini bukan suatu hal yang baru. Sebetulnya, sudah usang sejumlah praktisi pertanian menyarankan semoga keterbatasan petani bisa diselesaikan dengan cara memberi peluang untuk keluar dari basis pertanian konvensional.
Berbagai proyek dan agenda sudah dilaksanakan, tetapi memang belum sepenuhnya membuahkan hasil. Banyak kegiatan justru menciptakan petani terjebak pada keterpurukan, contohnya pemberian kredit modal perjuangan tanpa disertai dengan pemberian keterampilan perjuangan dan pendampingan. Maksudnya, menciptakan petani memiliki perjuangan di luar acara perjuangan tani, tetapi karenanya justru malah menjerumuskan petani pada jeratan utang.
Baca Juga :
- Inilah Jenis Baru Varietas Jagung Ungu, Unik & Sangat Menguntungkan
- 5 Tips & Trik Budidaya Ranti / Leunca, Dijamin Ciamik Sekaligus Menguntungkan
- Beginilah Cara Jitu Budidaya Buah Blueberry, Agar Hasil Lebih Melimpah
Upaya memberi peluang petani untuk masuk wilayah ‘off farm’ akan lebih baik apabila disertai dengan pendampingan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pilihan model perjuangan yang diberikan sebaiknya juga tak terlalu jauh dengan basis komoditas pertanian yang mereka kelola.
Faktor yang paling penting, yaitu semua perjuangan itu dilaksanakan dalam sebuah wadah berbentuk kelompok semoga lebih mudah pemantauannya, mendampingi, dan efisien dalam praktik pelaksanaannya. Dalam praktiknya, bukan hanya forum pemerintah yang terlibat, melainkan juga melibatkan pihak swasta serta akademi tinggi.
Contoh yang bisa dilaksanakan dengan cara memberdayakan para petani melalui Gapoktan. Para petani dikelompokkan dalam Gapoktan, dengan luas areal minimal 50ha. Melalui wadah Gapoktan pihak Dinas Pertanian dan Pemda menunjukkan banyak sekali pinjaman dalam bentuk modal usaha, alat produksi, dan pendampingan.
Para petani menciptakan lantai jemur, membangun unit penggilingan padi, dan menjual produk mereka dalam bentuk beras. Sesudah itu, beras yang mereka jual sudah menerima sertifikasi kualitas dari forum yang kredibel sehingga menerima akreditasi pasar sebagai beras berkualitas bagus. Nantinya, para petani akan menerima nilai tambah yang cukup besar dari penjualan beras hasil produksi sendiri dengan harga yang cukup tinggi.
Jika Anda membutuhkan Karung Beras untuk pengemasan saat pasca panen padi atau dipakai untuk yang lainnya dengan harga yang murah dan bahannya lebih abadi Anda bisa menghubungi kami melalui SMS/CALL pada hari dan jam kerja (Minggu dan hari besar TUTUP)
Telp : 031- 8830487
Mobile : 0877 0282 1277 / 0812 3258 4950 / 0852 3392 5564
Catatan :
– Minimal order 5.000 lembar
– harga netto (tidak termasuk PPN)
– harga franco Surabaya, belum termasuk ongkos kirim ke kota tujuan
– harga tidak mengikat, bisa berubah setiap waktu


Komentar
Posting Komentar